Karena Anak Adalah Titipan Allah, 3 Hal Ini Jangan Sekali-kali Dilakukan Orangtua

Tiap manusia mempunyai sifat dan watak yang berbeda. Ada yang keras dan ada yang lembut. Sebagai orang tua, tentu kita juga harus sadar dengan sifat dan watak anak-anak kita. Memang, terkadang kita sering merasa jengkel saat anak tak menurut, namun bukan menjadi alasan kita harus berteriak atau memarahi anak dengan cara yang justru membuat mereka kian ‘menjadi’

Ada baiknya, saat kita memerintah anak untuk melakukan tindakan tertentu, jangan terlalu menekan atau memaksanya. Cukup memberikan perintah dengan cara yang lembut dan sabar. Pun, tak bisa ditolak mereka juga belum mengerti kewajiban untuk menuruti orang tua. Mereka belum paham apa yang kamu maksud. Nah, agar anak menjadi lebih patuh pada kita, sebaiknya perhatikan 3 faktor di bawah ini:

1. Karena pemahaman anak yang masih belum mengerti, ada baiknya menggunakan cara definitif ketika memerintahkannya.

Gunakan cara definitif via www.muzmatch.com

Gunakan cara definitif via www.muzmatch.com

Terkadang, kita juga sering lupa kalau anak tidak bisa menangkap apa yang kita perintahkan mengingat mereka belum dewasa. Kata-kata yang sering kita lontarkan pada anak, seperti; “Ayo bersekan kamar!”, “Jangan nakal!” dan lain sebaginya. Pada dasarnya ini adalah tindakan yang salah, karena tidak definitif. Anak tidak mengerti dengan apa yang kita katakan. Oleh sebab itu, cobalah untuk memerintah anak dengan definitif dan tentu saja lemah lembut, seperti: “Nah, kamarmu kok kurang bagus ya? Coba deh dibereskan biar tambah bagus,”

2. Karena anak bukan robot, jadi tak ada gunannya meneriakinya. Cobalah untuk mengusap rambutnya dan yakinkan ia menatap mata kita.

Anak bukan robot via www.theguardian.com

Anak bukan robot via www.theguardian.com

Kadang, anak sering tak menghiraukan saat dipanggil atau disuruh. Kasus ini biasanya terjadi pada saat anak tengah konsen dengan sesuatu. Misalnya, kita memanggilnya saat anak sedang asyik bermain. Mereka pasti lebih fokus mainannya ketimbang suara kita. Dan biasanya kita sebagai orang tua langsung menghakimi anak dengan menyebutnya pembangkan atau tak menurut. Hal ini tentu saja bukanlah sesuatu yang baik, mengingat anak masih belum dewasa dan belum mengeti apa yang kita maksud.

Ada baiknya, kita menasehatinya dengan cara berulang-ulang dan tanyakan pada anak apakah ia tahu bahwa kita sedang berbicara dengannya. Bila anak masih belum menyadarinya, maka jangan buru-buru meneriakinya. Sentuhlah kepalangan dengan usapan lembut, dan yakinkan matanya menatap mata kita. Rendam emosi dan jangan sekali-kali meneriakinya.

3. Meski jengkel, bukan hal yang baik untuk memaksa anak dengan perintah-perintah.

Jangan memaksa via www.123rf.com

Jangan memaksa via www.123rf.com

Kadang, kita juga sering khilaf dengan meminta sesuatu pada anak untuk segera melakukan apa yang diperintahkan. Tapi mereka dalam situasi dimana tak ingin melakukan hal tersebut, dan lebih memilih menghiraukan perintah kita. Misalnya saat anak sedang bersama temannya dan kita menyuruhnya untuk segera mandi. Biasanya anak akan menghiraukannya dan tak jarang membuat kita merasa emosi. Percayalah, ini bukan sepenuhnya kesalahan si anak. Kitalah yang seharusnya lebih memperhatikan situasi si anak. Kita bisa mendatanginya dan mengucapakan kata-kata dengan cara lembut. Ajak si anak berkomunikasi dan jangan selalu memaksanya untuk melakukan apa yang kita perintahkan.

Ya, sejatinya anak adalah titipan dari Yang Kuasa. Kita sebagai orang tua dituntut untuk sabar dan tawaqal. Sebab, segala tindakan kasar yang kita lakukan biasanya akan ditiru oleh si anak. Nggak mau kan anak jadi liar dan kasar?

 

Leave a Reply