Bolehkah Berdoa Di Media Sosial? Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

Di jaman serba modern ini adalah jaman dimana teknologi sangat pesat berkembang. Dengan hadirnya teknologi, aktifitas manusia dibuat untuk menembus ruang tempat dan waktu. Sifat manusia yang senang berinteraski terbawa hingga ke dunia maya.  Munculnya berbagai media sosial seperti facebook, twitter, blog, path, dan situs online sejenisnya membuat para penikmat sosial media mempunyai dunia baru dalam kehidupannya. Di sana pengguna dapat membagikan segala macam perasaan baik itu kesedihan maupun kegembiraan. Namun adapula sebagian orang yang menggunkan media sosial sebagai tempat untuk berdoa.

Berdoa memang mendatangkan banyak kebaikan juga manfaat bagi kita. Namun bagaimana hukumnya jika doa disematkan dalam media sosial? Berikut isikulkas.com berikan penjelesannya.

Berdoa mempunyai banyak manfaat bagi kita. Doa, merupakan kekuatan dan energi tiada tara karena ia terhubung dengan zat yang Maha Kuasa. Dengan berdoa, kita meyakini bahwa Allah akan selalu ada bersama kita dalam segala kondisi dan situasi. Secara sikis, doa akan membuka tabir potensi yang selama ini kita miliki namun tidak pernah kita sadari.

Perkembangan internet yang amat pesat membuat orang jadi kecanduan, akibatnya hampir semua orang tidak bisa lepas dari media sosial dalam kehidupannya. Segala aktifitas yang dilakukan terasa tidak lengkap apabila tidak diupdate di sosial media, seperti contohnya berdoa sebelum makan, berdoa ketika akan tidur, bahkan doa yang berisi harapan atau keinginan terhadap sesuatu hal.

Bedoa di sosmed via www.ributrukun.com

Bedoa di sosmed via www.ributrukun.com

Secara umum tidak ada masalah kalau kita berdoa melalui jejaring media sosial atau di tempat umum maupun berdoa dengan suara yang lantang. Dalil mengenai perkara ini cukup banyak. Diantara doa yang dibaca Rasulullah SAW ketika khutbah jumat disebabkan oleh permintaan orang arab baduy agar beliau memohon kepada Allah SWT untuk segera menurunkan hujan. Termasuk doa-doa yang dibaca oleh khotib khutbah jumat dan kita semua tau doa itu dibaca di tempat umum dihadapan banyak orang.

Hanya saja untuk beberapa kasus tertentu, terkait berdoa melalui jejaring media sosial kita harus memerahatikan beberapa batasan seperti:

1. Postingan berisi doa yang baik

Postingan yang diunggah ke sosial media hendakanya berisi doa yang baik. Memposting doa-doa ke media sosial dengan tujuan mengajarka kebaikan kepada sodara lainnya sangatlah diperbolehkan. Malahan, hal tersebut sangat dianjurkan. Jika tujuannya ialah mengajak seseorang untuk melakukan perbuatan yang baik, seperti misalnya memposting doa yang benar ketika hendak tidur, atau saat dzikir pagi dan petang atau doa selama hujan. Insyaallah kegiatan semacam ini termasuk amal sholeh, karena sama halnya mendakwahkan hal kebaikan kepada teman-teman kita. Melalui media sosial kita sudah melakukan amalan sunah. Oleh karena itu, kita perlu memastikan kembali, bahwa doa yang kita sebarkan terjamin kesohehannya.

Rasulullah SAW. telah menjanjikan bahwa orang-orang yang memotivasi orang lain untuk berbuat baik, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikuti ajakannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al Ansori R.A, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menunjukan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (seseorang yang mengikutinya).” (H.R. Muslim)

2. Postingan yang bukan berisi doa yang sifatnya pribadi

Seperti yang kita ketahui, berdoa menggunakan media sosial memang diperbolehkan apabila ditunjukan untuk berdakwah. Namun, harus kita perhatikan isi yang dituliskan dari doa tersebut. Jangan sampai doa yang sifatnya pribadi menjadi konsumsi publik. Doa yang tidak selayaknya didengar orang lain yang merupakan bagian dari privasi seseorang maka tidak selayaknya disebarkan melalui jejaring media sosial. seperti doa yang isinya penyesalan berbuat maskiat dengan menyebutlan bentuk maksiatnya yang dilakukan, atau doa yang isinya keluhan-keluhan masalah pribadi yang selayaknya tidak diketahui oleh orang lain.Kita diajarkan untuk tidak membeberkan aib pribadi.

Rasulullah SAW menasehati kita dalam sabdanya yang berbunyi:

“Setiap orang dari umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang yang melakukan mujaharah (terang-terangan bermaksiat) dan termasuk sikap mujaharah ialah seseorang melakukan sebuah perbuatan dosa di malam hari kemduia pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan, ‘wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini dan seperti itu’, padahal Allah telah menutup dosanya. Di malam hari, Allah telah menutup dosanya namun di pagi ahri, dia menyikapi tabir Allah dalam dirinya.” (HR. Bukhori)

Syariat juga mengajarkan agar kita tidak menjadi hamba yang tidak mudah mengekuh kepada orang lain, sebab hal semacam ini menunjukan kurangnya tawakal. Allah SWT mencontohkan sikap para nabi yang mana mereka hanya mengeluhkan masalah kepadaNya.

3. Berhati-hati dalam doa yang ditulis

Selain berisi doa yang baik dan tidak bersifat pribadi, hendakanya doa yang tertuang dalam halaman media sosial milik kita bukan merupakan doa yang isinya sesautu yang tidak baik. Seperti contohnya, doa agar nyawa kita dicabut oelh Allah SWT atau doa-doa lainnya yang tidak sepantasnya diminta kepada Allah SWT.

Dari pemaran diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa berdoad di media sosial adalah diperbolehkan tetapi tentu saja dengan beberapa batasan yang harus kita perhatikan. Namun alangkah lebih baik jika doa tersebut disampaikan langsung kepada Allah SWT tanpa sebatang perantara seperti media sosial.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hanyalah kepda Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesediahanku.” (QS. Yusuf:86)

Leave a Reply